Gisella Anastasia membagikan cerita di balik keterlibatannya dalam film “Balas Budi”, di mana ia dipercaya memerankan tokoh Thalita. Ketertarikannya pada proyek ini muncul sejak awal, terutama setelah ia mengenal kualitas karya sang sutradara Reka Wijaya.
“Waktu pertama kali dipercaya untuk bergabung di Balas Budi, aku langsung tertarik. Apalagi sebelumnya aku baru menonton film karya Mas Reka Wijaya juga sebagai sutradara. Menurut aku filmnya bagus, cakep, dan menarik. Setelah membaca ceritanya, aku makin yakin,” kata Gisella Anastasia.
Tak hanya tertarik dari sisi kreatif, Gisella juga menilai tema yang diangkat film ini sangat dekat dengan realitas sosial masa kini. Balas Budi mengangkat fenomena love scamming, modus penipuan berbasis hubungan emosional yang semakin marak di era digital.
“Isu yang diangkat tentang love scamming itu menarik banget. Aku sendiri memang belum pernah jadi korban love scamming yang benar-benar sindikat seperti ini, tapi ada pengalaman yang sedikit merempet ke arah sana. Ada momen-momen di mana kita sebagai perempuan bisa berpikir, ‘Wah, ini kayaknya real,’ padahal belum tentu,” tutur Gisella Anastasia.

Dalam film tersebut, karakter Thalita digambarkan sebagai sosok yang juga mengalami proses pendewasaan. Gisella pun mengakui adanya kesamaan tertentu antara dirinya dan karakter yang ia perankan.
“Kalau irisan paling jelas antara Thalita dan Gisella Anastasia, mungkin dari sisi ‘kurang pintarnya’ di masa-masa tertentu,” ujarnya sambil tersenyum.
“Namanya juga belajar hidup, semua orang pasti pernah ada di fase itu. Di film ini, Thalita juga berada di dunia entertainment, bahkan diceritakan sebagai seorang selebritas, jadi ada sedikit kemiripan dengan kehidupan aku,” imbuhnya.
Lebih jauh, Gisella menekankan bahwa Balas Budi membawa pesan sosial yang kuat terkait bahaya manipulasi emosional dalam relasi. Ia menilai fenomena ini semakin mudah terjadi seiring berkembangnya teknologi digital.
“Kalau kita lihat dari cerita Mas Reka Wijaya, ini memang fenomena sosial yang nyata. Ada yang mungkin awalnya tidak berniat jahat, tapi ada juga yang benar-benar sudah punya modus operandi. Love scamming itu sekarang banyak banget,” jelasnya.

Menurut Gisella Anastasia, korban penipuan semacam ini tidak mengenal gender. Siapa pun yang sedang berada dalam kondisi emosional rentan dapat menjadi sasaran.
“Korban love scamming itu bukan cuma cewek, cowok juga. Siapapun yang terlihat sendiri, terlihat ada celah, itu sering banget jadi korban. Apalagi sekarang di era digital, gampang banget pakai muka siapa, ngaku jadi siapa, dan kita bisa chatting berbulan-bulan tanpa tahu kalau itu penipuan,” ungkapnya.
Melalui film ini, Gisella berharap masyarakat semakin waspada dalam menjalin hubungan, khususnya yang bermula dari dunia maya. Ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dan proses mengenal yang tidak terburu-buru.
“Berdoa supaya nggak dijahatin orang. Tapi kalaupun dijahatin, semoga cepat ketahuannya. Kita juga harus lebih sabar, jangan menggebu-gebu, dan kasih waktu untuk membuktikan. Cross-check ke banyak sisi itu penting,” pungkasnya.











