Menu

Mode Gelap

Lensa+ · 25 Jul 2025 10:03 WIB ·

Suara Dari Timur: Jeritan Warga Halmahera Timur atas Kerusakan Lingkungan Akibat Tamban


 Suara Dari Timur: Jeritan Warga Halmahera Timur atas Kerusakan Lingkungan Akibat Tamban Perbesar

Isu kerusakan lingkungan kembali menjadi sorotan publik. Bukan hanya masyarakat umum, sejumlah publik figur pun angkat bicara mengenai perusakan alam yang kian mengkhawatirkan. Kali ini, sorotan tertuju pada Halmahera Timur, Maluku Utara, di mana masyarakat setempat tengah memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup mereka yang diklaim mengalami kerusakan serius akibat aktivitas pertambangan.

Masyarakat menyebut perusahaan berinisial P sebagai yang diduga bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan tersebut. Dugaan ini menguat setelah beredar video yang memperlihatkan kondisi alam Halmahera Timur yang rusak, diduga akibat aktivitas tambang nikel oleh perusahaan tersebut. Sejak mulai beroperasi pada tahun 2024, PT P telah banyak menuai keluhan dari warga sekitar. Beberapa di antaranya meliputi pencemaran air, pengerukan tanah tanpa izin, hingga eksploitasi terhadap lahan adat.

Temuan dari tim pemantau lingkungan pada Februari 2025 semakin memperkuat dugaan tersebut. Dalam laporan mereka, ditemukan adanya pembukaan lahan secara ilegal yang dilakukan tanpa persetujuan dari masyarakat adat setempat. Lahan yang digarap disebut sebagai tanah adat yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Pengerukan tanah dalam jumlah besar untuk tambang nikel telah mengakibatkan rusaknya ekosistem serta hilangnya tanah subur yang penting untuk pertanian dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Tak hanya itu, warga yang mencoba menyuarakan protesnya dilaporkan mendapat intimidasi dari aparat bersenjata. Aksi warga untuk mempertahankan hak mereka atas tanah dan lingkungan justru dibalas dengan tindakan represif yang membuat mereka mundur dari lokasi.

Kondisi ini mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk dari kalangan publik figur. Konten kreator sekaligus komika Gianluigi Christoikov menyampaikan rasa geramnya terhadap perlakuan yang diterima masyarakat Halmahera Timur. Dalam keterangannya kepada media pada Rabu (23/7), Gianluigi menyatakan, “Mereka hanya bersuara demi tanah adat yang telah dicemari, mengapa mereka harus ditahan?”. Ia menambahkan, “Aneh jaman sekarang. Tanah dirampas, alam dirusak, kok warga dibungkam.”

Masyarakat dan berbagai pihak menyerukan aksi kolektif agar pemerintah turun tangan. Mereka berharap adanya penegakan hukum yang tegas terhadap perusahaan yang terbukti merusak lingkungan, khususnya tanah adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan kelangsungan hidup masyarakat lokal.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan tak boleh mengorbankan alam dan hak-hak masyarakat. Suara dari Halmahera Timur layak didengar dan diperjuangkan, demi masa depan yang berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Klarifikasi Dicky Anugerah Pratama, Bantah Tuduhan Pelecehan Verbal

12 February 2026 - 10:33 WIB

Buntut Dugaan Penggelapan Rp 200 Miliar, Pricellyah Lilian Mengadu ke DPR 

28 January 2026 - 07:29 WIB

Beyond Open 2025: Turnamen Padel Bergaya Sportainment

11 December 2025 - 08:44 WIB

Deolipa Yumara Dampingi Arif Saifudin Cari Keadilan Soal Kasus Tanah 1,6 Hektar

10 December 2025 - 15:58 WIB

Penyitaan Aset Rp 700 Miliar, Deolipa Yumara Laporkan Oknum KPK ke Bareskrim

9 December 2025 - 21:32 WIB

K-Food Makin Mendunia, Paviliun Korea Meriahkan SIAL Interfood Jakarta 2025 

18 November 2025 - 13:34 WIB

Trending di Lensa+